Energi Spiritual jamaah umroh SQCB di Depan Ka’bah: Saat Fisik Lelah Namun Iman Semakin Membara

detikhukum.id, || TANGERANG – Kerinduan mendalam kepada Baitullah membawa rombongan jamaah dari travel Sahabat Qolbu Cahaya Baitullah memulai perjalanan suci mereka pada 26 Februari hingga 10 Maret 2026. Perjalanan ini terasa istimewa karena menggabungkan ibadah umroh dengan paket wisata halal ke Haikou, China, di bawah bimbingan langsung Tour Leader berpengalaman, Bapak Supriyadi, atau yang akrab disapa Pak Linov.

Semangat di Balik Puasa: Dari Soekarno-Hatta menuju Haikou

Bertolak dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, rombongan terbang menuju Haikou, Hainan, China. Meski perjalanan dilakukan dalam suasana bulan Ramadan, letih karena berpuasa tidak menyurutkan semangat para jamaah. Destinasi wisata halal di Haikou menjadi pembuka perjalanan yang menyegarkan mata sebelum mereka memfokuskan diri pada ibadah inti di Tanah Suci.

Keunikan Bandara King Abdul Aziz dan Pesona Padang Pasir

Dari Haikou, rombongan melanjutkan penerbangan menuju Jeddah. Setibanya di Bandara Internasional King Abdul Aziz, para jamaah sempat mengabadikan momen kebersamaan di depan akuarium raksasa yang menjadi ikon unik bandara tersebut.

Perjalanan darat kemudian dilanjutkan menuju Madinah menggunakan bus. Sepanjang perjalanan, pemandangan padang pasir tandus yang luas membentang menjadi saksi bisu perjalanan spiritual ini. Namun, segala lelah seketika sirna saat bus memasuki gerbang kota Madinah Al-Munawwarah.

Tangis Haru di Masjid Nabawi dan Keberkahan Raudhoh

Suasana berubah syahdu saat jamaah melihat kubah hijau Masjid Nabawi, tempat jasad mulia Baginda Nabi Muhammad SAW bersemayam bersama para sahabat. Rasa rindu yang membuncah membuat para jamaah larut dalam haru.

Selama tiga hari di Madinah, jamaah memaksimalkan ibadah mulai dari salat lima waktu hingga tarawih berjamaah. Momen yang paling dinantikan adalah saat jamaah berhasil masuk ke Raudhoh, area yang diyakini sebagai taman surga dan tempat mustajab untuk berdoa. Prosesi ini berjalan lancar di bawah bimbingan telaten dari Muthowwib Laode Rusdin.

“Rasanya berat meninggalkan Madinah yang penuh kedamaian ini, namun panggilan Baitullah di Makkah sudah menanti kami,” ujar salah satu jamaah dengan mata berkaca-kaca.

Puncak Ibadah: Tawaf dan Sa’i di Kota Suci Makkah

Meninggalkan ketenangan Madinah, rombongan bergerak menuju Makkah Al-Mukarromah untuk menunaikan ibadah umroh. Setibanya di Masjidil Haram, jamaah langsung melaksanakan Tawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran sembari melantunkan doa dan harapan terbaik mereka.

Rangkaian ibadah dilanjutkan dengan:

Salat sunnah di belakang Maqom Ibrahim.
Meminum Air Zam-zam yang menyegarkan jiwa.
Sa’i dari bukit Shofa ke Marwah, menapaki jejak perjuangan Ibunda Hajar.
Tahalul sebagai penutup rangkaian ibadah umroh yang sempurna.
semangat jamaah justru semakin membara. Pak Linov selaku Tour Leader tak henti-hentinya memberikan motivasi. Ia mengingatkan bahwa pahala salat di Masjidil Haram setara dengan 100.000 kali lipat di masjid lain, apalagi dilakukan di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.

Strategi khusus pun diterapkan oleh jamaah laki-laki; mereka memilih untuk selalu mengenakan kain ihram agar mendapatkan akses lebih mudah untuk melakukan tawaf sunnah berkali-kali dan bisa melaksanakan salat tepat di depan Ka’bah.

“Saya merasa sangat puas bisa beribadah sedekat ini dengan Ka’bah setiap saat,” ujar Mas Firman, salah satu jamaah yang selalu tampak bersemangat dengan kain ihramnya.

Kisah Inspiratif: Dari Khatam Al-Qur’an hingga Melawan Sakit

Antusiasme ini menular ke seluruh rombongan. Mas Asep Awaludin asal Semarang, misalnya, terinspirasi oleh suasana Makkah hingga berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an di sela-sela waktu ibadahnya.

Semangat pantang menyerah juga ditunjukkan oleh Mas Hadi. Meski kondisi fisiknya sempat menurun karena sakit, hal itu tidak menghalanginya untuk tetap berangkat ke masjid demi mengejar keutamaan ibadah. Hal serupa ditunjukkan oleh Mas Fadhillah yang terus “ngegas” memacu diri agar tidak melewatkan sedetik pun waktu tanpa berdzikir dan beribadah di Baitullah.

Perjalanan bersama Sahabat Qolbu Cahaya Baitullah ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati yang mempertebal iman dan mempererat ukhuwah antar sesama jamaah.

Ramadhan yang Berbeda bagi jamaah sepasang pasutri

Meskipun ibadah umroh sudah sering dilakukan oleh pasangan suami istri ini, namun perjalanan kali ini terasa sangat istimewa bagi mereka.

“Kami sudah beberapa kali umroh, tapi umroh kali ini rasanya sangat berbeda karena dilakukan tepat di bulan Ramadhan. Suasananya lebih magis dan menyentuh hati,” ungkap samg istri yang diamini oleh Pak Suami.

Bagi mereka, berpuasa di pelataran Ka’bah memberikan energi spiritual yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Ujian dan Kekhusyukan: Testimoni Ibu Zubaedah & Kak Hanifa
Bagi pasangan ibu dan anak, Ibu Zubaedah dan Kak Hanifa, perjalanan ini adalah momen mempererat ikatan batin sekaligus spiritual. Mereka mengaku sangat terkesan dengan bimbingan Pak Linov yang senantiasa mendampingi.

Meski sempat menemui sedikit kendala terkait variasi menu makanan di hotel Makkah, hal tersebut sama sekali tidak menggoyahkan niat suci mereka.

“Meskipun ada kekurangan di menu makanan hotel, kami sampaikan agar menjadi evaluasi agar lebih baik lagi. Tapi Alhamdulillah itu tidak mengurangi kekhusyukan kami sedikit pun. Fokus kami adalah ibadah, dan suasana di sini benar-benar membuat hati tenang,” ungkap Kak Hanifa yang diamini oleh Sang Ibu.

Ibadah kali ini juga terasa sangat terorganisir berkat bantuan dari jamaah yang sudah berpengalaman. Salah satunya adalah Kak Jovita. Meski statusnya sebagai jamaah, pengalamannya dalam umroh sebelumnya membuat ia secara sukarela membantu mengarahkan jamaah lain serta aktif berkoordinasi dengan Pak Linov dan Muthowwib demi kelancaran agenda rombongan.

Menjelang kepulangan, suasana haru kembali menyelimuti. Ibu Siti Rodliyah mengungkapkan perasaan emosionalnya mewakili perasaan banyak jamaah. Beliau menuturkan betapa dalamnya kesan yang ditinggalkan oleh perjalanan ini.

“Saya pasti akan sangat merindukan suasana seperti ini. Kebersamaannya, kekhusyukannya, dan kedekatan kita dengan Baitullah. Rasanya ingin kembali lagi,” ungkap Bu Siti Rodliyah dengan mata berkaca-kaca.

DH/Gusdin /red

Pos terkait