detikhukum.id, || WeiBenfals Lipezig – Jerman – Saat jelang Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia ke – 81 tahun, perasaan rindu kampung halaman datang tiba-tiba, bergegas saya telfon teman dan suadara. Tangan saya juga akhirnya memilih adik angkat di Indonesia untuk diajak bicara. Dan entah kenapa akhirnya obrolan kita berdua mengarah pada berbagai diksi cerita, perbandingan kedua negara, yaitu antara Jerman dan Indonesia.
Sambil merasakan dinginnya cuaca Jerman dimalam hari, adik saya yang berada kota besar bercerita bahwa Gajihnya lima juta rupiah, Potongan BPJS, PPH, dll kepotong lima ratus ribu rupiah, “Kurang lebih 10% ” kata adik.
Sama-sama sakit pas liat potongannya, namun yang membuat kami berfikir “Lari kemananya duit pajak itu?”
Tanpa ba-bi-bu, saya jelaskan bahwa di Jerman Potongannya juga lumayan banyak, sekitar hampir 35%, tapi jelas kemana larinya.
Di Jerman, kalau mau ke dokter, itu gratis, sama kaya di Indonesia, cuma bedanya, disini tidak ada diskriminasi, ke apotek nebus obat cuma bayar €5 uero saja.
Sekolah juga gratis, dari TK sampai Kuliah. Bahkan buku pelajaran dipinjemkan.
Jika ada jalan yang rusak, maka 2 hari langsung diaspal.
Siapapun yang sudah berumur 65 tahun, maka dianggap sebagai pensiunan. Maka tiap bulan akan mendapatkan €1.300 atau seitar 25-26 juta rupiah, masuk rekening seumur hidup. Walaupun pada awalnya lapor pajak ribet, tapi jika ada yang main curang, langsung ketangkep, dan hebatnya media informasi “Koran” heboh hingga satu minggu. Orangnya masuk penjara dan keluarganya akan malu seumur hidup, dan uangnya akan balik lagi pada negara atau lembaga.
Intinya di Jerman itu, pajak itu kayak tabungan wajib, dan fungsinya akan selalu kita gunakan dari sekarang hingga maut memisahkan.
Sejenak kami berdua menghela nafas, seperti sesak menahan rasa sakit, dan kami mulai menerka, kemana pajak di Indonesia ? Potongannya Lari ke Mana?
Adik cerita : Kemarin saya anter teman berobat ke RS pake BPJS, antri dari jam empat subuh, dan obatnya kosong.
Alhamdulillah sih, sekolah kita juga “gratis” tapi bayar komite, bayar seragam, bayar study tour.
Jalan depan rumah sudah lama rusak, sudah dua kali diaspal, dua bulan berikutnya bolong lagi.
Lalu saat usia sudah renta, paling banter para Pensiunan ? Ya jualan di rumah. Andalin anak.
Sambil berseloroh dan guyon dalam telfon. Adik bisik-bisik : “Bang, buat biro jasa KTP aja ? Katanya bisa nembak 200 ribu rupiah biar cepet. Coba kalau sehari ada sepuluh orang yang meminta jasa buat KTP, kan lumayan bang…hehehe.
Hussss…ngomong apa kamu dik.
Ya kan kita tahu bang, berita korupsi muncul tiap hari. Dari mulai milyaran, trilyunan, bahkan jika di total nilainya sampai kuadron trilyun, lalu besoknya udah ganti berita baru. Gak tahu uang itu balik lagi apa tidak?
Malam itu setelah bicara banyak dalam telfon, saya tidak bisa memejamkan mata, fikiran menerawang, memikirkan dua kalimat yang muter di kepala :
“Pajak kita sama-sama besar. ?
“Tapi rasa amannya bagaikan langit dan bumi.”?
Di Jerman, negara bilang : “Kasih uangmu ke negara. Nanti hari tuamu kami jamin.”
Di Indonesia, negara bilang : “Kasih uangmu ke negara.” …titik…tanpa koma. Tapi tidak tahu lagi harus bagaimana hari tua kita, padahal banyak ayat dan pasal UUD agar mesyarakatnya sejahtera.
Bukan berarti di Jerman sempurna. Di sini juga banyak birokrasi, harus antri tiga bulan untuk ke dokter.
Bukan berarti Indonesia gagal. Di sana masih ada gotong royong, tetangga masih nengokin jika kita sakit, bahkan jika kita tidak memiliki apqpun, tetangga masih mau bantu dan memikirkan kita.
Tapi bedanya mungkin hanya satu : “Kepercayaan”.
Orang Jerman bayar pajak karena percaya uangnya balik kepadanya dalam bentuk jalan, sekolah, uang pensiun, dan upaya kesejahteraan lainnya. Dan yang lebih menggigit lagi, Upah Minimum Regional “UMR” jerman jauh lebih besar ratusan persen, dibandingakan Indonesia.
Banyak orang Indonesia males bayar pajak karena mikir: “Lah nanti dikorupi, bagaimana ya”.
Terus, apakah Indonesia layak disebut merdeka ?
Saya inget pidato 17 Agustus waktu SD.
“Merdeka itu bebas dari penjajahan.”
Sekarang usiaku sudah 42 tahun, saya bertanya pada diri sendiri :
Bebas dari penjajah iya.
Tapi apa kita sudah bebas dari rasa takut ke Rumah Sakit ?
Bebas dari rasa takut anak tidak bisa sekolah?
Bebas dari rasa takut tua, nanti hari tua jadi beban anak tidak ?
Bebas tidak bisa mencari pekerjaan yang layak ?
Bebas dari hukum yang tidak berpihak pada rakyat ?
Kalau belum…? berarti perjuangan kebebasannya belum selesai.
Mata yang sulit terpejam, memikirkan kemerdekaan, yang jika kisah ini di ceritakan kepada para pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, tentunya mereka akan menangis. Apakah kita nyerah saja dan membiarkan negara seperti ini ? Tapi kalau kita diem terus, kubangan ini gak akan pernah kering.”
Karena merdeka yang sesungguhnya…
Adalah ketika rakyat tidak takut lagi dengan negaranya sendiri .
DH/Thoha/red






