detikhukum.id || TAPANULI TENGAH – Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah (Pemkab Tapteng) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus menunjukkan komitmen nyatanya dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Dinas Lingkungan Hidup Tapteng mengerahkan para petugas kebersihan beserta jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk melaksanakan aksi gotong royong peduli lingkungan di tengah masa Status Tanggap Darurat di Kecamatan Tukka dan Kecamatan Badiri.
Kegiatan gotong royong ini didampingi oleh Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Tengah, Boy Agustinus Butar-Butar, dan dipusatkan di beberapa titik lokasi, yaitu Kelurahan Hutanabolon, Bonalumban, Sipange, serta Kelurahan Lopian.
Dengan berbekal peralatan kerja cangkul, sekop, sapu lidi, kantong sampah, serta dukungan armada truk sampah (dump truck), para petugas dan ASN bahu-membahu membersihkan tumpukan sampah dan sedimentasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Tengah, Erniwati Batubara, SE, MM, menegaskan bahwa “Kegiatan ini merupakan bagian dari rutinitas dan komitmen berkelanjutan Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Tapteng. Kami ingin memastikan lingkungan kita tetap bersih dan sehat, terlebih saat ini kita sedang berada dalam masa Status Tanggap Darurat,” ujar Erniwati Batubara.
Ia menjelaskan Pemfokusan kegiatan gotong royong di kedua kecamatan Tukka dan Badiri tersebut didasari oleh langkah Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah yang sebelumnya telah secara resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir untuk wilayah Kecamatan Tukka dan Kecamatan Badiri. Keputusan ini berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 27 September hingga 10 Oktober 2026. Sebagai respons atas banjir susulan yang melanda kedua kecamatan tersebut pada Sabtu, 26 September 2026
Di sela-sela aksi gotong royong, para ASN dari DLH Tapteng juga turun langsung menyapa dan memberikan edukasi kepada warga sekitar. Masyarakat diimbau untuk senantiasa menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan, terutama di saluran air, parit, dan sungai.
“Salah satu pemicu timbulnya bencana banjir adalah tersumbatnya alur sungai dan parit akibat akumulasi sampah serta endapan sedimen. Oleh karena itu, edukasi langsung ini sangat penting agar masyarakat semakin sadar akan dampaknya,” tambah Erniwati.
Melalui giat ini, Pemkab Tapanuli Tengah berharap dapat membakar kembali semangat dan membudayakan tradisi gotong royong di tengah-tengah masyarakat demi terciptanya lingkungan yang aman, bersih, dan bebas dari ancaman bencana.
“Peduli Lingkungan, Hindari Bencana. Mari Bersahabat dengan Alam dengan Cara Peduli dengan Alam.”
DH/B.Butarbutar/red






