DUNIA DI PERSIMPANGAN: GEOPOLITIK INTERNASIONAL DAN NASIB NEGARA BERKEMBANG

Oleh: Bahrudin El-Shiraaz
Penulis dan Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer

detikhuku.id || Dunia sedang bergerak menuju babak baru yang penuh ketidakpastian. Konflik antarnegara, perang ekonomi, perebutan sumber daya alam, hingga persaingan teknologi global telah membentuk wajah geopolitik internasional yang semakin keras dan kompleks. Negara-negara besar kini tidak lagi hanya bertarung dengan senjata, tetapi juga dengan pengaruh ekonomi, media, energi, bahkan penguasaan data dan teknologi digital.

Perang Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, serta konflik Laut Cina Selatan hanyalah sebagian kecil dari tanda bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar dalam peta kekuasaan global. Dalam situasi seperti ini, negara-negara berkembang termasuk Indonesia harus memiliki kewaspadaan politik, kemandirian ekonomi, dan keteguhan moral agar tidak menjadi korban perebutan kepentingan global.

Geopolitik modern bukan sekadar soal militer. Hari ini, perang dapat hadir dalam bentuk embargo ekonomi, permainan mata uang, penguasaan pangan, manipulasi informasi, hingga tekanan hutang internasional. Negara yang lemah secara ekonomi akan mudah ditekan secara politik. Negara yang bergantung pada impor pangan dan teknologi akan sulit berdiri mandiri di tengah badai global.

Kita menyaksikan bagaimana banyak negara kaya sumber daya justru terjebak dalam kemiskinan struktural karena elitnya gagal membangun kemandirian nasional. Kekayaan alam dikuasai korporasi asing, sementara rakyat hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Inilah bentuk baru kolonialisme modern yang bekerja lebih halus tetapi dampaknya sangat nyata.

Dalam perspektif Islam, kekuatan umat tidak hanya diukur dari jumlah penduduk atau kekayaan alam, tetapi juga dari kualitas ilmu pengetahuan, persatuan sosial, dan keadilan kepemimpinan. Peradaban Islam di masa lalu pernah menjadi pusat geopolitik dunia karena berhasil memadukan moralitas, ilmu, dan kekuatan ekonomi dalam satu bangunan peradaban yang kokoh.

Sayangnya, banyak negeri Muslim hari ini justru terpecah oleh konflik internal, fanatisme politik, dan ketergantungan ekonomi kepada kekuatan asing. Akibatnya, umat Islam lebih sering menjadi objek percaturan global daripada menjadi subjek yang menentukan arah dunia.

Indonesia sebagai negara besar memiliki posisi strategis dalam geopolitik internasional. Letak geografis yang berada di jalur perdagangan dunia menjadikan Indonesia memiliki nilai penting di mata kekuatan global. Namun posisi strategis ini dapat menjadi kekuatan sekaligus ancaman. Jika bangsa ini lemah secara moral dan ekonomi, maka kepentingan asing akan lebih mudah masuk mengendalikan arah kebijakan nasional.

Karena itu, bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran geopolitik dan keberanian moral. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu membaca arah dunia, bukan sekadar menjadi konsumen informasi global. Media harus menjadi alat pencerdasan masyarakat, bukan sekadar arena propaganda dan sensasi politik.

Jum’at adalah momentum refleksi. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin gaduh, umat Islam harus kembali menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada senjata dan kekayaan, tetapi juga pada iman, persatuan, dan keadilan sosial. Dunia boleh berubah, peta politik boleh bergeser, tetapi nilai kebenaran dan kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa.

Jika umat terus terpecah, sibuk dengan konflik kecil, dan kehilangan arah peradaban, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam drama besar geopolitik internasional. Namun jika umat mampu bangkit dengan ilmu, persatuan, dan kesadaran sejarah, maka bukan tidak mungkin Indonesia dan dunia Islam kembali menjadi kekuatan moral yang dihormati dunia.

Oleh: Bahrudin El-ShiraazPenulis dan Pegiat Kajian Keislaman KontemporerDunia sedang bergerak menuju

DH/ Thoha /red

Pos terkait