Oleh: Bahrudin El-Shiraaz
Aktivis Intelektual, Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer dan Isu Geopolitik Timur Tengah
detikhukum.id, || Indramayu, –
Di tengah dunia yang semakin terbelah oleh konflik geopolitik, rivalitas ideologi, dan polarisasi kepentingan, umat Islam sesungguhnya memiliki satu simbol pemersatu yang tidak pernah berubah sejak lebih dari empat belas abad lalu, yaitu Ka’bah. Bangunan suci di Masjidil Haram itu bukan sekadar kiblat dalam salat, melainkan episentrum spiritual yang menyatukan miliaran umat Islam melampaui batas negara, etnis, bahasa, dan mazhab.
Ironisnya, semakin kuat simbol persatuan yang dimiliki umat Islam, semakin nyata pula realitas perpecahan yang terjadi di berbagai belahan dunia Islam. Konflik politik, perang saudara, rivalitas kekuasaan, hingga fanatisme kelompok sering kali mengalahkan semangat ukhuwah yang diajarkan Islam. Padahal, setiap hari jutaan muslim berdiri menghadap arah yang sama. Kiblatnya satu, tetapi kepentingannya kerap tercerai-berai.
Ka’bah mengajarkan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar orientasi ibadah. Ia merupakan manifestasi nyata bahwa Islam dibangun di atas fondasi persaudaraan, persamaan derajat, dan ketundukan mutlak kepada Allah SWT. Tidak ada keistimewaan seseorang karena ras, warna kulit, kebangsaan, jabatan, ataupun kekayaan. Ketika mengenakan pakaian ihram, seluruh atribut dunia ditanggalkan. Yang tersisa hanyalah ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan.
Ibadah haji menjadi panggung terbesar persatuan umat manusia. Jutaan muslim dari ratusan negara berkumpul dalam waktu dan tempat yang sama tanpa membedakan latar belakang sosial maupun politik. Seorang kepala negara bertawaf bersama petani, ulama berjalan berdampingan dengan buruh, akademisi bersanding dengan pedagang kecil. Semua tunduk kepada aturan yang sama dan mengucapkan talbiyah yang sama. Inilah wajah Islam yang sesungguhnya: egaliter, inklusif, dan mempersatukan.
Namun, semangat persatuan itu sering berhenti di Tanah Suci. Ketika jamaah kembali ke negaranya masing-masing, sekat-sekat politik, fanatisme organisasi, serta perbedaan mazhab kembali mengemuka. Perselisihan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog berubah menjadi permusuhan yang melemahkan kekuatan umat. Akibatnya, dunia Islam sering tampil sebagai kawasan yang mudah diintervensi oleh kepentingan global karena lemahnya solidaritas internal.
Dalam perspektif geopolitik, Ka’bah memiliki makna strategis yang tidak dimiliki simbol keagamaan lain. Setiap tahun jutaan manusia dari berbagai bangsa bertemu, bertukar pengalaman, memperkuat jejaring persaudaraan, dan membawa pulang semangat persatuan. Potensi ini seharusnya menjadi modal besar untuk memperkuat kerja sama dalam bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, kemanusiaan, hingga diplomasi antarnegara Muslim.
Persoalan utama umat Islam saat ini bukanlah ketiadaan sumber daya, melainkan lemahnya konsolidasi. Dunia Islam memiliki populasi yang besar, kekayaan alam yang melimpah, serta posisi geografis yang strategis. Akan tetapi, seluruh potensi tersebut belum mampu dioptimalkan karena masih terjebak dalam konflik internal dan kepentingan jangka pendek.
Ka’bah seharusnya menjadi inspirasi untuk membangun kesadaran kolektif bahwa persatuan bukan sekadar slogan keagamaan, melainkan kebutuhan strategis. Umat Islam memerlukan visi bersama dalam menghadapi tantangan global, mulai dari krisis kemanusiaan, kemiskinan, ketimpangan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga dinamika geopolitik internasional yang terus berubah.
Pada akhirnya, Ka’bah bukan hanya menjadi arah kiblat ketika umat Islam menunaikan salat, tetapi juga menjadi kompas moral dalam membangun peradaban yang berkeadilan, bermartabat, dan berkeadaban. Selama umat Islam mampu menjadikan nilai-nilai tauhid, persaudaraan, keadilan, dan saling menghormati sebagai fondasi kehidupan, Ka’bah akan tetap menjadi pusat persatuan umat Islam dunia, sekaligus simbol harapan bagi lahirnya peradaban Islam yang kuat, berilmu, dan berkontribusi bagi perdamaian dunia.
Persatuan bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan. Dan Ka’bah telah mengajarkan pelajaran itu setiap hari. Pertanyaannya, apakah umat Islam hanya akan terus menghadap Ka’bah dalam salat, atau juga menjadikan pesan persatuan yang dipancarkannya sebagai arah dalam membangun masa depan bersama?
DH/Thoha/red






