detikhukum.id, || JAKARTA UTARA — Kelompok Sanggar Bambu sukses menggelar pementasan drama “Sayang Ada Orang Lain” karya Utuy Tatang Sontani di Gedung Pusat Pelatihan Seni Budaya Gelanggang Remaja Jakarta Utara (PPSB-GRJU), Rabu (5/8/2026).
Pementasan yang disaksikan ratusan penonton tersebut mendapat antusiasme tinggi. Mengangkat realitas kehidupan sosial dan persoalan kemiskinan, drama ini menyuguhkan kisah rumah tangga yang penuh tekanan ekonomi, konflik batin, serta dilema moral.
Pementasan disutradarai Eddy Dharmawanto, seorang seniman yang juga berprofesi sebagai advokat. Di bawah arahannya, para pemain membawakan cerita dengan pendekatan seni peran yang dinamis, didukung tata lampu dan desain panggung sederhana namun memiliki karakter kuat.

Kisah Rumah Tangga di Tengah Tekanan Ekonomi
Drama “Sayang Ada Orang Lain” berkisah tentang pasangan suami istri, Suminta dan Mini, yang hidup dalam kondisi ekonomi serba kekurangan.
Penghasilan Suminta yang tidak mencukupi membuat keduanya terjerat persoalan ekonomi dan utang. Tekanan kehidupan kemudian membuat Suminta mengalami depresi dan pesimis dalam menghadapi keadaan.
Sementara itu, Mini yang dilarang bekerja oleh suaminya mengambil keputusan secara diam-diam untuk mencari penghasilan dengan menjual dirinya demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Konflik semakin memuncak ketika Suminta mendengar kabar dari tetangganya bahwa Mini terlihat menaiki mobil bersama laki-laki lain. Kabar tersebut membuat Suminta berada dalam dilema moral dan emosional yang menjadi titik penting dalam perjalanan cerita.
Drama ini tidak sekadar menghadirkan konflik rumah tangga, tetapi juga menggambarkan bagaimana tekanan ekonomi dapat memengaruhi pilihan dan kehidupan seseorang.
Sentil Realitas Sosial
Melalui cerita tersebut, Sanggar Bambu mencoba menyentil realitas sosial mengenai kemiskinan, persoalan ekonomi keluarga, cinta, serta pilihan hidup yang tidak selalu mudah.
“Sayang Ada Orang Lain” bergenre tragedi karena menghadirkan kisah yang menyedihkan sekaligus sarat dengan persoalan kehidupan manusia.
Pementasan tersebut menjadi salah satu upaya Sanggar Bambu untuk terus menghadirkan seni pertunjukan yang berkualitas sekaligus relevan dengan kondisi sosial masyarakat.
“Kami ingin membawa penonton menyelami makna dari sebuah perjalanan, baik secara fisik maupun emosional,” ujar Eddy Dharmawanto, selaku sutradara, seusai pementasan.
Seni Teater sebagai Media Refleksi
Kekuatan dialog, permainan para aktor, tata cahaya, serta desain panggung yang sederhana namun unik menjadi bagian yang memperkuat atmosfer pertunjukan.
Pementasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa teater tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan kritik sosial dan mengajak masyarakat melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Bagi Sanggar Bambu, pementasan ini menjadi bagian dari agenda budaya untuk terus menghidupkan seni pertunjukan di tengah masyarakat Jakarta.
Gedung PPSB-GRJU dipilih sebagai lokasi pementasan karena dinilai representatif untuk pertunjukan teater serta memiliki lokasi yang strategis dan dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
Melalui karya “Sayang Ada Orang Lain”, Sanggar Bambu kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga eksistensi seni teater sekaligus menghadirkan pertunjukan yang memiliki nilai artistik dan pesan sosial bagi masyarakat.
DH/Kartika wati/red






