detikhukum.id,- Di bawah langit tenang dan deru debu tipis ibu kota yang tak pernah tidur, gema takbir mengiringi Sholat Idulfitri dan kemudian dilanjutkan dengan Khutbah dari sebuah pengeras suara di Mushola Al-Barkah Jakarta yang tak terasa menyayat hati. Sang Khatib tak bicara tentang gemerlap baju baru atau THR yang menyenangkan, melainkan tentang tragedi spiritual di atas tiga anak tangga mimbar Rasulullah ﷺ.
Suara Khatib bergetar menceritakan momen saat Nabi menaiki tangga. “Amin,” ucap Nabi di tangga pertama. “Amin,” di kedua. “Amin,” di ketiga. Tak ada doa panjang yang melangit, hanya pengesahan atas “doa suci” pahit yang dibawa Jibril ke bumi.

Doa Suci di Atas Mimbar Sejarah
”Bayangkan suara Nabi itu,” ujar Khatib di hadapan ratusan Jema’ah Mushola Al-Barkah Rawa Bebek Kelurahan Penjaringan Jakarta. “Beliau mengamini doa Jibril: celakalah mereka yang melewati Ramadan namun dosanya tak juga diampuni. Celakalah mereka yang mendengar nama Muhammad disebut, namun lidahnya kikir bershalawat.”
Suasana kian mencekam saat Khatib mengulas “Amin” ketiga bagi mereka yang masih memiliki orang tua namun gagal menjadikannya tiket surga.
Di tengah jemaah perantau yang tahun ini tak sanggup mudik, kalimat itu menghujam jantung: “Hina dinalah kalian yang sibuk mengais rezeki di aspal Jakarta, namun lupa memuliakan orang tua di rumah.”

Tiga kali “Amin” itu menjadi lonceng pengingat bagi mereka yang merasa miskin harta; bahwa surga bisa diraih dari balik pintu reot dan gang sempit, namun ego sering kali membuatnya terasa mustahil digapai.
Penutup: Untuk yang Tak Bisa Pulang
”Bagi kalian yang hanya bisa mengirim suara lewat telepon genggam karena dompet yang tipis,” tutup Khatib dengan suara parau, “ketahuilah bahwa memuliakan mereka tak melulu soal angka di layar M-banking. Surga kalian bukan pada kemegahan oleh-oleh, melainkan pada ketulusan bakti yang melampaui jarak ribuan kilometer. Jangan biarkan Jakarta menelan hati nurani dan kelembutan hatimu.”
DH/ Sulaeman /red






