Desa Bugis Tua Menguatkan Indramayu sebagai Lumbung Padi Nasional, Petani Soroti Jalan Rusak dan Sulitnya Irigasi

Oleh: Bahrudin El-Shiraaz
Aktivis Intelektual, Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer dan Isu Geopolitik Timur Tengah

Indramayu, —

Kabupaten Indramayu sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Indonesia. Kontribusi sektor pertanian dari berbagai desa menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Salah satu desa yang memiliki peran strategis adalah Desa Bugis Tua, Kecamatan Anjatan, yang hingga kini tetap mempertahankan aktivitas pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat.

Berdasarkan hasil investigasi lapangan dan wawancara dengan Bapak Kamali Asy’ari, Sekretaris Kelompok Tani Darma Pangon Desa Bugis Tua, luas lahan pertanian di desa tersebut mencapai sekitar 555 hektare. Luasan tersebut menunjukkan bahwa Desa Bugis Tua merupakan salah satu kawasan pertanian yang memiliki kontribusi penting terhadap produksi padi di wilayah Kecamatan Anjatan maupun Kabupaten Indramayu secara keseluruhan.

Menurut Kamali Asy’ari, dalam kondisi normal produktivitas padi mampu mencapai sekitar 5 ton per bau setiap musim tanam. Hasil tersebut menjadi sumber pendapatan utama bagi para petani sekaligus mendukung pasokan beras bagi masyarakat. Namun produktivitas tersebut tidak selalu dapat dipertahankan setiap musim.

Salah satu persoalan yang kerap dihadapi petani adalah serangan hama sundep atau penggerek batang padi. Hama ini menyerang tanaman pada fase pertumbuhan sehingga menghambat perkembangan batang dan mengurangi jumlah bulir padi yang dapat dipanen. Akibatnya, hasil panen dapat menurun menjadi sekitar 3 hingga 4 ton per bau, bergantung pada tingkat serangan di lahan pertanian.

Meskipun demikian, terdapat kabar yang cukup menggembirakan bagi petani. Harga gabah saat ini dinilai relatif baik, berada pada kisaran Rp7.300 hingga Rp7.500 per kilogram. Harga tersebut memberikan harapan bagi petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih layak, terutama apabila hasil panen berada dalam kondisi optimal.

Namun, tingginya harga gabah belum sepenuhnya mampu mengatasi berbagai persoalan mendasar yang dihadapi petani di lapangan. Menurut Kamali Asy’ari, terdapat dua kendala utama yang hingga kini masih menjadi perhatian serius, yaitu rusaknya jalan usaha tani dan sulitnya akses irigasi, terutama di wilayah Blok Salamdarma, Desa Bugis Tua.

Kerusakan jalan usaha tani menyebabkan distribusi sarana produksi pertanian menjadi kurang lancar. Pengangkutan pupuk, benih, alat pertanian, maupun hasil panen menjadi lebih sulit dan membutuhkan biaya tambahan. Pada musim hujan, kondisi jalan yang rusak bahkan dapat memperlambat mobilitas kendaraan pengangkut hasil panen sehingga berpotensi menambah kerugian bagi petani.

Selain persoalan jalan, jaringan irigasi juga menjadi tantangan yang tidak kalah penting. Ketersediaan air merupakan faktor utama dalam budidaya padi. Ketika distribusi air tidak berjalan secara optimal, pertumbuhan tanaman dapat terganggu dan risiko gagal panen meningkat. Oleh karena itu, keberadaan sistem irigasi yang berfungsi dengan baik menjadi kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan produksi pertanian.

Permasalahan infrastruktur pertanian sesungguhnya tidak hanya berdampak terhadap hasil panen, tetapi juga terhadap kesejahteraan petani. Biaya produksi yang meningkat akibat akses jalan yang kurang memadai serta keterbatasan pengairan dapat mengurangi keuntungan yang diperoleh petani, meskipun harga gabah sedang berada pada tingkat yang relatif baik.

Sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Indonesia, Kabupaten Indramayu memiliki peran strategis dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, peningkatan kualitas infrastruktur pertanian, mulai dari jalan usaha tani hingga jaringan irigasi, menjadi salah satu aspek penting yang dapat menunjang keberlanjutan produksi pangan.

Petani berharap adanya perhatian dan langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian, khususnya di wilayah-wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses. Perbaikan jalan usaha tani dan optimalisasi jaringan irigasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian sekaligus menjaga produktivitas lahan.

Dengan luas lahan pertanian mencapai 555 hektare serta potensi hasil panen yang tinggi pada kondisi normal, Desa Bugis Tua memiliki modal yang kuat untuk terus berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan. Potensi tersebut akan semakin optimal apabila didukung oleh infrastruktur yang memadai, pengendalian hama yang efektif, serta sistem irigasi yang mampu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, kelompok tani, penyuluh pertanian, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat sektor pertanian di Desa Bugis Tua. Dengan demikian, desa ini tidak hanya menjadi penopang ekonomi masyarakat setempat, tetapi juga terus memberikan kontribusi nyata bagi Kabupaten Indramayu sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Catatan Redaksi: Data mengenai luas lahan, produktivitas, harga gabah, serta kendala yang dihadapi petani dalam tulisan ini bersumber dari hasil wawancara dengan Bapak Kamali Asy’ari selaku Sekretaris Kelompok Tani Darma Pangon Desa Bugis Tua. Bagian yang membahas pentingnya infrastruktur pertanian dan ketahanan pangan merupakan analisis penulis berdasarkan konteks umum sektor pertanian.

Oleh: Bahrudin El-Shiraaz
Aktivis Intelektual, Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer dan Isu Geopolitik Timur Tengah

DH/ Thoha /red

Pos terkait