Pemkab Tapanuli Tengah Dukung Penuh Kajian Yonif TP 905 dan Nommensen untuk Wujudkan Tapteng Lumbung Garam Pulau Sumatera

detikhukum.id || TAPANULI TENGAH — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Tengah (Tapteng) terus memperkuat komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi daerah dan sektor pangan. Pemkab Tapanuli Tengah menyatakan sangat mendukung penuh pengembangan garam rakyat guna memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi kerakyatan di wilayah pesisir barat Sumatera Utara.

Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti hasil kajian yang diinisiasi oleh Batalyon Infanteri (Yonif) TP 905/Tuan Syah bersama Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PUSTAKA) Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Diharapkan hasil kajian ini nantinya layak untuk dikembangkan menjadi lumbung garam di wilayah Pantai Barat Sumatera dan terkhusus di Pulau Sumatera.

Sinergi antara unsur pemerintah daerah, TNI AD, dan akademisi ini diharapkan mampu melahirkan program pemberdayaan yang berkelanjutan, mendongkrak kesejahteraan masyarakat pesisir, serta menjadikan Tapanuli Tengah sebagai salah satu pusat kemandirian komoditas garam strategis di tingkat regional maupun nasional.

Danyonif TP 905/Tuan Syah, Letnan Kolonel Inf Sabar Marihot Simanjuntak, S.Hub.Int., M.Tr.Mil., menjelaskan, upaya memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan potensi sumber daya lokal terus didorong melalui kolaborasi antara Yonif TP 905/Tuan Syah dan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar melalui Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PUSTAKA NOMMENSEN).

Salah satu potensi sumber daya lokal yang kini mulai dikaji adalah potensi pengembangan garam rakyat di wilayah pesisir Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Kajian ini diarahkan untuk mengetahui sejauh mana air laut di wilayah tersebut dapat menjadi bahan baku pengembangan garam rakyat. Untuk itu, pengkajian tidak hanya dilakukan berdasarkan pengamatan lapangan, tetapi dilanjutkan dengan pengambilan sampel dan analisis ilmiah di laboratorium.

Lebih lanjut, Danyonif TP 905/Tuan Syah, Letnan Kolonel Inf Sabar Marihot Simanjuntak, S.Hub.Int., M.Tr.Mil., mengatakan potensi sumber daya lokal perlu dilihat sebagai bagian dari kekuatan ketahanan pangan sekaligus peluang pemberdayaan masyarakat.

“Potensi lokal perlu kita lihat dan kembangkan. Karena itu, kami mendorong potensi garam rakyat ini dikaji secara ilmiah bersama perguruan tinggi agar dapat diketahui potensinya dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurutnya, wilayah pesisir Manduamas memiliki sumber daya air laut yang perlu diteliti lebih lanjut. Air laut yang tersedia secara alamiah merupakan bahan baku utama dalam proses pembuatan garam, namun kualitas dan kelayakannya tidak cukup ditentukan hanya berdasarkan pengamatan secara visual.

Karena itu, penelitian bersama perguruan tinggi menjadi penting untuk mengetahui karakteristik air laut tersebut secara lebih objektif.

Kondisi air laut yang terlihat secara kasat mata merupakan gambaran awal, sedangkan potensi sesungguhnya sebagai bahan baku garam harus dibuktikan melalui analisis laboratorium.

Ketua Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Rindu Erwin Marpaung, mengatakan pengambilan sampel dilakukan oleh tim peneliti pada sejumlah titik di wilayah pesisir Manduamas untuk memperoleh gambaran yang lebih representatif mengenai karakteristik air laut.

Titik pengambilan sampel air laut yaitu: Pantai Sago, Pantai Tapus, Pantai Biru, Pantai Sindeas dan Pantai Afdeling

“Pengambilan sampel pada beberapa titik ini penting agar kita tidak hanya melihat kondisi air laut dari satu lokasi. Setiap titik dapat memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga data yang diperoleh nantinya dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai potensi bahan baku garam di wilayah Manduamas,” katanya.

Karena itu, hasil penelitian nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai hubungan antara karakteristik air laut dengan potensi produksi garam rakyat.

“Yang ingin kita bangun bukan sekadar angka hasil laboratorium. Data tersebut harus dapat menjawab pertanyaan yang lebih besar: apakah sumber daya air laut di Manduamas memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku garam rakyat, bagaimana kualitasnya, dan seperti apa peluang pengembangannya secara berkelanjutan,” terang Rindu.

Menurutnya, penelitian ini juga penting karena pengembangan garam rakyat tidak semata-mata merupakan persoalan teknis produksi. Jika potensi tersebut terbukti secara ilmiah, pengembangannya akan berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, ketahanan pangan, tata kelola sumber daya pesisir, serta kebijakan pemerintah daerah.

Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada data laboratorium, tetapi dapat menjadi dasar bagi pengembangan potensi garam rakyat dan perumusan kebijakan berbasis bukti.

Kolaborasi antara Yonif TP 905/Tuan Syah dan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar melalui PUSTAKA NOMMENSEN tersebut diharapkan dapat mempertemukan potensi wilayah, pengetahuan akademik, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu agenda bersama.

Dari pesisir Manduamas, upaya tersebut menjadi bagian dari gagasan yang lebih besar bahwa ketahanan pangan tidak hanya dibangun melalui komoditas pertanian, tetapi juga melalui kemampuan daerah mengenali, meneliti, mengembangkan, dan mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Kajian potensi garam rakyat yang dilaksanakan sejak Rabu hingga Jumat 21 Agustus ini sekaligus menjadi langkah awal untuk melihat apakah air laut Manduamas dapat dikembangkan menjadi salah satu sumber daya ekonomi baru bagi masyarakat pesisir, dengan tetap menjadikan data ilmiah sebagai dasar pengambilan keputusan.

DH/B.Bitarbutar/red

Pos terkait