IDUL ADHA DI TENGAH KORUPSI DAN KETIDAKADILAN

detikhukum.id,- Idul Adha tidak hanya berbicara tentang penyembelihan hewan qurban, tetapi juga tentang pengorbanan moral dan kemanusiaan. Di tengah suasana takbir yang menggema, bangsa ini masih menghadapi persoalan besar berupa korupsi, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial yang terus melukai rasa keadilan masyarakat.

Ketika sebagian rakyat hidup dalam kesulitan ekonomi, praktik korupsi justru tetap terjadi di berbagai tempat. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah sering kali berubah menjadi alat memperkaya diri. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap moralitas para pemimpin semakin menurun.

Padahal, Idul Adha mengajarkan bahwa manusia harus mampu mengorbankan sifat tamak, egoisme, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Nabi Ibrahim memberikan teladan tentang kepatuhan, keikhlasan, dan keberanian menempatkan nilai kebenaran di atas kepentingan pribadi.

Makna qurban tidak akan memiliki nilai besar apabila masih ada penindasan terhadap rakyat kecil, ketimpangan ekonomi, dan lemahnya keberpihakan kepada keadilan. Qurban sejati adalah keberanian menegakkan kejujuran serta kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Para pemimpin harus kembali menyadari bahwa kekuasaan adalah tanggung jawab moral, bukan sarana memperkaya diri. Sementara masyarakat perlu memperkuat solidaritas, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan moral. Sebab tanpa kejujuran dan keadilan, kemajuan hanya akan dinikmati oleh segelintir orang.

Semoga Idul Adha menjadi pengingat bahwa nilai pengorbanan harus diwujudkan dalam keberanian melawan korupsi, menegakkan keadilan, dan membela kepentingan rakyat.

Oleh: Bahrudin El-Shiraaz
Penulis dan Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer

DH/ Thoha /red

Pos terkait