Dari Kelas Pesantren Ke Gelar Doktor: Perjuangan Dr.Hj.Tatu Zakiyatun Nufus Guru Ponpes Al-Mansyuriyah Sepatan

detikhukum.id, || Tangerang- | Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Indonesia. Dr. Hj.Tatu Zakiyatun Nufus. M.Pd., seorang guru di Pondok Pesantren Al-Mansyuriyah, Kp.Gurudug, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.”Berhasil menyelesaikan Sidang Terbuka Promosi Doktor pada tanggal 17 Juli 2026 di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.(4/8/2026)

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa dedikasi sebagai pendidik tidak menghalangi seseorang untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan.

Dalam sidang terbuka tersebut, Dr.Hj.Tatu mempertahankan disertasinya yang berjudul”Translanguaging Practices in Pesantren: A Design Based Research on Multilingual English Teaching”. Penelitian ini mengangkat praktik penggunaan berbagai bahasa secara dinamis dalam proses pembelajaran di lingkungan pesantren.

Topik ini dinilai sangat relevan dengan perkembangan pendidikan di Indonesia yang memiliki keberagaman bahasa, budaya, dan latar belakang peserta didik.”Kajian mengenai translanguaging juga semakin mendapat perhatian dalam penelitian linguistik terapan karena dinilai mampu mendukung pembelajaran yang lebih inklusif dan efektif.

Selain mengabdikan diri sebagai guru di Pondok Pesantren Al-Mansyuriyah yang dipimpin oleh ayahandanya KH.Ahmad Sholahuddin,S.Ag., Dr. Hj.Tatu juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi, di antaranya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Pradita.

Di bidang pengembangan kemampuan bahasa Inggris, ia juga dikenal sebagai Trainer TOEIC pada program kebahasaan di Universitas Trisakti, membantu mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia akademik maupun profesional.

Disertasi yang ditulisnya lahir dari kepedulian terhadap praktik pembelajaran bahasa di pesantren. Selama ini, pesantren dikenal sebagai lingkungan multibahasa yang menggunakan bahasa Indonesia, Arab, Inggris, serta bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penelitiannya, Dr.Hj.Tatu menunjukkan bahwa keberagaman bahasa tersebut bukanlah hambatan, melainkan potensi besar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan membangun kompetensi berbahasa para santri.

“Pendekatan translanguaging memberikan ruang bagi guru dan peserta didik untuk memanfaatkan seluruh sumber daya bahasa yang mereka miliki secara strategis dalam proses belajar,” jelasnya.

Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi banyak kalangan, khususnya guru, dosen, santri, dan generasi muda Indonesia.

“Bagi saya, pendidikan adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti. Setiap guru memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh, melakukan penelitian, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Saya berharap perjalanan ini dapat menginspirasi lebih banyak pendidik untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti berkarya,” ungkap Dr.Hj.Tatu Zakiyatun Nufus usai sidang terbuka.

Keberhasilan Dr.Hj.Tatu juga memperlihatkan semakin besarnya kontribusi kalangan pesantren dalam dunia akademik. Jika dahulu pesantren lebih dikenal sebagai pusat pendidikan keagamaan, kini banyak pendidik dari lingkungan pesantren yang turut berkiprah di perguruan tinggi, menghasilkan penelitian berkualitas, serta memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Prestasi Dr.Hj.Tatu Zakiyatun Nufus menjadi pengingat bahwa mimpi besar dapat diraih oleh siapa saja yang memiliki tekad kuat. Menjadi guru, dosen, peneliti, sekaligus pembelajar sepanjang hayat bukanlah sesuatu yang mustahil.

Justru dari ruang-ruang kelas sederhana di pesantren lahir inspirasi yang mampu memberikan dampak bagi pendidikan Indonesia dan dunia,”tutupnya.

Subhan beno/red

Pos terkait