detikhukum.id, || JAKARTA – Di penghujung bulan suci Ramadhan ini, sebuah pemandangan langka terjadi di Wisma Elang Laut, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/3). Bukan sekadar bagi-bagi sembako biasa, acara bertajuk ‘Berbagi untuk Negeri: Dari Menteng untuk Menteng’ ini mengungkap sisi kedermawanan nyata para tokoh bangsa yang tinggal di kawasan elit tersebut.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, atau yang akrab disapa Ara, secara blak-blakan mengungkap “dapur” di balik pengadaan 2.000 paket sembako tersebut. Ia menyebut aksi ini adalah perwujudan arahan Presiden Prabowo Subianto agar pejabat dan pengusaha peduli langsung pada rakyat.
Tak tanggung-tanggung, para tokoh ini merogoh kocek pribadi dengan skema patungan yang transparan: Bang Ara Rp 200 juta, Kasal Laksamana TNI Dr Muhammad Ali Rp 200 juta, Boy Thohir dari Adaro Group Rp 200 juta, dan Lawrence Barki Rp 200 juta.
”Ini adalah kolaborasi indah. Wujud kepedulian pejabat, pengusaha, dan warga sesuai arahan Presiden Prabowo. Kita semua tetangga di Menteng, jadi kita harus saling bantu,” ujar Bang Ara.
Suasana semakin meriah ketika Menko Polkam yang hadir secara mendadak memberikan dukungan spontan.
Tak mau kalah dalam semangat berbagi, Menko Polkam langsung menambah bantuan berupa 1.000 paket daging dan 1.000 ekor ayam untuk melengkapi paket sembako yang ada.
Kejutan ini sontak membuat warga yang hadir bersorak gembira. Kehadiran Menko Polkam bersama Duta Besar Singapura dan Duta Besar Belanda seolah menegaskan bahwa stabilitas keamanan nasional berakar dari perut rakyat yang kenyang dan hati yang tenang.
Gebrakan bagi-bagi sembako ini membuktikan bahwa tidak semua warga Menteng, Jakarta Pusat hidup makmur. Masih ada warga yang kurang mampu dan perlu dibantu seperti acara yang digagas Kasal dan Ara, panggilan akrab Maruarar Sirait.
Aksi ini menjadi potret nyata bahwa gotong royong belum mati. Saat para taipan seperti Boy Thohir dan Lawrence Barki bersinergi dengan Jenderal bintang empat dan Menteri Kabinet, hasilnya adalah bantuan konkret yang dirasakan langsung oleh ribuan warga.
Menteng hari ini bukan lagi simbol tembok tinggi dan pagar besi, melainkan simbol tangan terbuka bagi sesama tetangga.
DH/Gusdin /red






